Pengalaman Perkuliahan Selama Semester III dan Harapan untuk Semester Depannya

 


Oleh :  

Choirul Rahmawati

Nim :  12001175

Program Studi Pendidikan Agama Islam

Institut Agama Islam Negeri Pontianak


Bismillahhirrahmanirrahim,,,

Tahun pun berganti, bulan demi bulan terlampaui, dan hari demi hari terlewati. Tak terasa perkuliahan yang di alami oleh mahasiswa angkatan 2020 telah genap memasuki semester ke empat. Keresahan yang dirasakan pun masih tetap sama, khususnya bagi mahasiswa yang berkuliah di Institut Agama Islam Negeri Pontianak yang masih belum bisa merasakan leganya duduk dibangku perkuliahan dan bertatap muka secara langsung bersama dosen di kelas. Hal ini bukan menjadi rahasia umum lagi karena pandemi Covid-19 yang  tak kunjung mereda yang menjadi penyebab kami selaku mahasiswa angkatan 2020 belum bisa merasakan duduk dibangku perkuliahan. Sudah genap dua tahun Covid-19 menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat di Dunia tak terkecuali di Indonesia sendiri. Meskipun sempat mereda, tetapi lonjakan khasus terkonfirmasi positif Covid-19 (Corona) kembali terjadi lagi dan lagi, sehingga membuat pemerintah kembali menetapkan PPKM di wilayah-wilayah tertentu. Mulai dari PPKM level satu, dua hingga tiga dan empat. Hal ini membuat perguruan tinggi memutuskan untuk terus memperpanjang masa perkuliahan secara daring (online). 

    Memasuki akhir tahun 2021 kemarin,  alhamdulillah khasus Covid-19 di Indonesia mulai mereda, tak terkecuali di Kalimantan Barat. Hal ini pun menjadi peluang beberapa sekolah dan perguruan tinggi mulai membuka kembali aktivitas belajar mengajar di sekolah dan kampus, tentunya dengan berbagai peraturan ketat yang telah ditetapkan oleh Pemerintah. Di Institut Agama Islam Negeri Pontianak pun mulai memberlakukan perkulihan tatap muka, namun dibatasi dengan ketentuan-ketentuan ketat, dan yang hanya boleh  melakukan perkuliahan secara luring (offline) hanya untuk mahasiswa semester satu. Kami sebagai mahasiswa semester tiga hanya bisa meneguk ludah pasrah, dan kembali menjalani perkuliahan secara daring (online) seperti semester-semester sebelumnya. Sedih dan jenuh sudah pasti itulah yang kami rasakan, sudah setahun lamannya hanya bisa melakukan aktivitas perkuliahan secara daring (online). Namun mau bagaimana lagi, pandemi yang tak kunjung usai, karena bagaimana pun kesehatan adalah hal yang paling utama. Walaupun tidak dilakukan secara tatap muka, nyatanya kegiatan dan proses belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar. Tak sedikit acara webinar, seminar, dan kegiatan organisasi lainnya dapat terlaksana meskipun dengan kondisi daring (online). Meskipun begitu, ada beberapa kelas yang diangkatan kami sudah pernah merasakan duduk dibangku perkuliahan dan meskipun hanya untuk di beberapa mata kuliah saja yang memang memerlukan aktifitas praktik dan  harus dilakukan secara langsung. Selain itu juga ada beberapa kegiatan kampus yang sudah bisa dilaksanakan secara langsung di kampus meskipun dilaksanakan dengan protokol yang ketat sesuai anjuran Pemerintah. 

    Alhamdulillah akhirnya semester tiga sudah terlewati. Tidak terasa kita telah memasuki semester baru. Di semester yang baru ini tentunya mesti disambut dengan harapan dan semangat baru. Mungkin memang tantangan yang akan dihadapi kedepannya masi sama, mengingat pandemi covid-19 yang belum ada tanda-tanda untuk segera usai. Meskipun demikian, tidaklah harus membuat kita sebagai sorang pelajar khususnya sebagai seorang mahasiswa untuk berputus asa apa lagi menyerah. Di semester baru ini marilah sama-sama kita menyusun agenda dan harapan baru untuk semester kedepannya. Agar kesalahan-kesalahan di semester lalu dapat kita perbaiki.. 

    Selama perkuliahan di semester tiga kemarin banyak sekali kisah-kisah yang sangat menarik untuk dibahas. Begitu pun banyak kenangan suka maupun duka yang telah saya rasakan. Dibandingkan dengan semester satu dan dua, semester tiga merupakan waktu yang paling berkesan bagi saya. Banyak kenangan yang terjadi saat itu dan akan saya ceritakan dan saya sampaikan pada laporan kali ini. Saya berterimakasih kapada ibu Ninda selaku dosen pembimbing saya, karena berkat tugas yang beliau berikan seperti ini, saya dapat menceritakan kembali pengalaman-pengalaman yang saya rasakan pada setiap semesternya, dan nantinya tulisan-tulisan ini akan menjadi kenangan tersendiri agar bisa saya simpan dan saya kenang nantinya. 

    Sebelum saya melanjutkan tulisan ini,  seperti biasa saya akan menyampaikan ucapan terima kasih saya kepada pihak-pihak yang telah terlibat dalam proses belajar saya selama semester tiga kemarin. Saya berterima kasih kepada para dosen yang telah mengajar dan membimbing saya selama semester tiga. Para dosen luar biasa yang tidak bias saya seputkan satu persatu namannya di sini, para dosen yang telah mengajar di kelas 3E Prodi Pendidikan Agama Islam, IAIN Pontianak. Saya memang bukan mahasiswa yang aktif, namun kendati demikian, saya selalu memperhatikan ketika para dosen menjelaskan, sehingga jika ditanya, saya sangat hafal dengan gaya masing-masing dosen yang tentu berbeda dalam setiap pengajarannya. Tak lupa kepada teman-teman yang ada di kelas 3E PAI, saya sangat berterima kasih telah mengenal mereka semua, setelah bertemu secara langsung kemarin ketika ada mata kuliah yang mengharuskan untuk bertatap muka, ternyata teman-teman yang ada di kelas 3E PAI memiliki sifat yang ramah. Tentunya saya merasa tidak dikucilkan ketika berkumpul bersama mereka (hehe). Menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya karena telah mengenal mereka semua. Serta yang terakhir tak lupa saya ucapkan rasa terima kasih saya kepada rekan-rekan yang ada di organisasi LDK As-salam IAIN Pontianak. Ungkapan terima kasih ini tidaklah lain saya ucapkan karena selama saya mengikuti organisasi tersebut, banyak sekali hal-hal positif yang saya rasakan. Berkumpul Bersama mereka memberika saya motivasi-motivasi hidup serta pelajaran yang sangat berharga. Dan yang terakhir tak lupa ungkapan terima kasih saya kepada kedua orang tua saya yang telah memberikan dukungan materil untuk saya agar dapat menyelesaikan perkuliahan pada semester tiga kemarin dengan baik. 

    Baiklah seperti yang telah saya sampaikan di atas, bahwa semester tiga memiliki kenangan suka duka yang akan sangat menarik untuk dibahas. Namun yang menjadi fokus pembahasan saya kali ini adalah kenangan yang sangat berkesan. Dipadukan dengan bumbu suka dan duka yang akan saya tuliskan. 

    Memasuki awal tahun 2022 kemarin, Institut Agama Islam Negeri Pontianak berduka, beberapa dosen senior telah dipanggil oleh Allah Swt terlebih dahulu. Tentunya duka mendalam menyelimuti kampus IAIN Pontianak karena telah kehilangan beberapa sosok dosen yang hebat. Salah satunya adalah dosen yang mengajar pada mata kuliah saya yang tidak biasa saya sebutkan namannya di sini, namun harapan saya dan kami semua sebagai mahasiswa yang pernah di didik oleh beliau, semoga beliau di tempatkan ditempat terbaik disisi Allah Swt, Aamiin. Tentunya kami sebagai mahasiswa sangat merasa kehilangan, meskipin belum pernah bertemu secara langsung dengan beliau, tetapi beliau dikenal dengan dosen yang sangat ramah kepada semua mahasiswa. Tegas dan berwibawa itu lah beliau menurut perspektif pandangan saya sendiri. Yang membuat kami merasa sangat sedih adalah, kala itu kami sekelas dan beliau telah merencanakan pertemuan untuk membahas perkuliahan di selingi dengan silaturahmi. Namun pertemuan tersebut hanya sebuah rencana, ya karena manusia hanya bias berencana dan Allah lah yang Maha mengatur segalanya. Seminggu setelah perencanaan tersebut beliau menghilang, perkuliahan pun diisi dengan kekososngan akibat beliau yang absen. Setelah mendengar kabar ternyata beliau jatuh sakit. Namun seminggu setelah kabar itu beliau dikabarkan telah menghembuskan nafas terakhirnya. Ah berbicara tentang kematian, tentu kita semua pasti akan merasakanannya. Yang membuat kita takut dan sedih adalah kita semua tidak pernah siap. Betapa pun kita menyesalkan, pertemuan memang sebuah perjalanan untuk berpisah. 

    Setelah kabar duka tersebut, akhirnya dosen pada mata kuliah itu pun diganti dengan dosen yang baru. Namun, kami menyadari kami telah mengalami ketertinggalan pelajaran yang sangat jauh dan ujian akhir semester tinggal menghitung hari. Jadi dosen pun meminta kami melakukan perkuliahan secara tatap muka untuk pertama kalinya. Senang tentu itu yang kami rasakan sebagai mahasiswa yang belum pernah merasakan bagaimana rasanya duduk dibangku perkuliahan. Waktu pun diatur sedemikian rupa sehingga pada hari  yang telah ditentukan. Walaupun memang tidak semua mahasiswa yang biasa hadir pada saat itu, karena ada beberapa mahasiswa yang masih di kampung dan belum bisa untuk bergabung. Kendati demikian perkuliahan tetap berjalan dengan baik dan lencar meskipun ada sebagian mahasiswa tetap mengikuti secara daring (online). 

    Namun dari hasil pertemua tersebut, kami telah mengalami ketertinggalan materi yang cukup jauh, sehinggat dosen meminta kami untuk membuat laporan perjalanan ditempat-tempat bersejarah mengingat mata kuliah ini juga merupakan mata kuliah Sejarah Pendidikan. Untuk itu, kami diberi tugas UAS untuk melakukan penelitian di tempat bersejarah dan mencari tau sejarah-sejarah Pendidikan yang telah dialami oleh tempat bersejarah tersebut. Setelah melakukan diskusi panjang kami sepakat untuk melakukan observasi di keraton Mempawah atau yang lebih sering dikenal dengan Kerajaan Amantubillah Mempawah. Tentu untuk melaksanakan observasi tersebut, berbagai perencanaan yang matang harus kami lakukan, mengingat kegiatan observasi ini akan dilaksanakan selama dua hari satu malam. Mengapa saya katakana dua hari satu malam, untuk perjalanan yang lumayan memakan waktu dari Pontianak-Mempawah, maka bapak dosen pun mengususlkan untuk malam harinya dilakukan evaluasi tugas. Untuk tempat penginapannya kami memilih pantai Samudra Indah Singkawang sebagai tempat tujuan kami. 

    Setelah semua material yang dibutuhka untuk kegiatan observasi telah dipersiapkan, maka pada tanggal 27-28 febuari 2022 pun menjadi waktu yang telah kami sepakati untuk melakukan perjalanan observasi. Kegiatan kami yang pertama adalah mengunjungi makam Kesultanan Pontianak. Mengapa ini menjadi spot pertama kunjungan kami, karena di sini selain kami berdoa untuk para sultan, kami juga meminta doa agar perjalanan yang akan kami laksanakan dapat berjalan dengan baik dan lancar tanpa terkendala sesuatu apapun. Mengingat ini adalah perjalanan pertama kami selama perkuliahan dan perjalanan kali ini cukup jauh. Namun sayangnya kegiatan observasi kami tidak bias didamping oleh bapak dosen, karena beliau memiliki agenda lain yang mendadak sehingga kamipun harus mandiri untuk melaksanakan kegiatan observasi ini sendiri.


    Setelah ziarah kemakam Kesultanan Pontianak, kami pun melanjutkan perjalanan menuju keraton Mempawah. Alhamdulillah perjalanan berjalan dengan baik dan lancar, hal ini tak lain karena para mahasiswa yang tertib selama perjalanan berlangsung. Memasuki waktu zhuhur kami baru tiba di Mempawah sehingga kami memutuskan untuk ishoma menjalankan ibadah sholat zhuhur di masjid Jami’atul Khair. Sekilas info, masjid Jami’atul Khair terletak di kelurahan Pulau Pendalaman Mempawah, Kalimantan Barat. Masjid ini merupakan salah satu bukti bahwa Islam telah masuk di Mempawah setidaknya sejak abad ke 18 M. Dari hasil obsevasi yang telah kami lakukan, masjid ini dibangun pada tanggal 8 Dzulhijjah 1324 H atau sekitar pada tanggal 23 Desember 1906 M oleh Panembahan Mempawah yaitu Gusti Muhammad Taufiq Aqmuddin. Pesona masjid Jami’atul Khair ini memang sungguh tak terlupakan bagi saya, berbahan kayu besi yang terawat dengan apik, bersih, dan letaknya yang tepat berada di tepi sungai Mempawah. Masjid Jami’atul Khair memiliki Panjang yang kurang lebih 40 meter dan lebarnya 30 meter. Untuk membuat fondasi masjid bangunan ini menggunakan tongkat yang berjenis belian. Kata pengurus masjid tersebut, dahulu kolong masjid masih belum terdapat apa-apa, namun sekarang bagian bawah masjid telah diberi dinding dan di semen agar kolong tersebut tidak terlihat oleh siapa pun. Masjid Jami’atil Khair sendiri dapat menampung kurang lebih 800 orang jamaah. Lantai pada bangunan masjid ini menggunakan papan belian yang sangat awet meskipun usianya sudah cukup lama. Masjid Jami’atul Khair telah banyak mengalami perbaikan, salah satunya adalah dibagian atap masjid yang telah diganti dengan seng yang awalnya menggunakan atap sirap dari belian juga. Meskipun tidak terlalu megah dan mewah, tetapi masjid Jami’atul Khair didominasi dengan warna hijau sehingga terlihat sangan sejuk. Perlu diketahui bahwa masjid Jami’atul Khair sebenarnya telah mengalami perpindahan bangunan sebanyak tiga kali. Ketiga tempat tersebut antara lain Kampung Siantan, Kampung Brunai, dan Kampung Pendalaman. Banguna masjid Jami’atul Khair yang berdiri sekarang merupakan bangunan masjid yang kedua karena bangunan yang sebelumnya pernah terbakar. Tempatnya pun strategis dan berdekatan dengan Istana Amantubillah sehingga siapapun yang mengunjungi Istana Amantubillah pasti akan mampir untuk mengunjungi masjid Jami’atul Khair juga, entah itu untuk melaksanakan ibadah salat, ataupun hanya sekedar mengunjungi saja sambil menikmati keindahan sungai Mempawah yang berada dekat di masjid Jami’atul Khair. Sayangnya karena asik menikmati keindahan pemandangan bangunan masjid, saya sampai lupa untuk mengabadikan gambar dari bangunan masjid Jami’atul Khair tersebut. Jika penasaran kalian bisa mencari di internet bagaimana bentuk bangunan masjid Jami’atul Khair Mempawah. 

    Setelah melaksanakan salat zhuhur dan puas menikmati pemandangan pada bangunan masjid, kami memutuskan untuk segera melanjutkan perjalanan di spot utama kami yaitu di kerajaan kesultanan Mempawah. Seperti yang telah dibahas di atas bahwa masjid Jami’atul Khair dan Istana Amantubillah Mempawah memiliki lokasi yang berdekatan. Sehingga kami hanya pelu berjalan kaki beberapa meter saja. Setelah sampai di depan keraton Amantubillah, tak lupa kami mengambil beberapa kali sesi foto untuk dokumentasi. Sebenarnya pada awal masuk di keraton kami tidak diizinkan karena kami tidak membawa surat izin resmi dari kampus, mengingat kami yang dating adalah rombongan yang berjumlah lebih dari tiga puluh orang. Namun, setelah diskusi akhirnya kami diperbolehkan untuk melakukan observasi di istana Amantubillah tersebut. Istana Amantubillah dibangun pada masa pemerintahan Gusti Jamiril yang bergelar Panembahan Adi Wijaya Kesuma (1761-1787) yang merupakan sultan ke-3 Kesultanan Mempawah.  Begitu memasuki Istana Amantubillah, kami disambut dengan pintu gerbang Istana yang bertuliskan ‘’Mempawah Harus Maju, Malu dengan Adat’’. Begitu melewati gerbang kami melihat halaman dengan rerumputan hijau dan terdapat beberapa Meriam peninggalan sejarah yang diletakkan di halaman Istana. Ada sekita enam belas Meriam. Istana Amantubillah didominasi dengan warna hijau tosca dan dengan sedikit corak kuning keemasan ciri khas bangunan melayu pada umumnya. Kompleks Istana Amantubillah dibagi menjadi tiga bagian yaitu bagian utama, sayap kanan, dan sayap kiri. Dahulu bangunan utama di Istana ini merupakan tempat singgasana raja. Beserta permaisuri hingga para keluarga kerajaan. Sementara itu bangunan sayap kanan dijadikan tempat untuk mempersiapkan jamuan bagi kalangan keluarga istana. Dan bangunan sayap kiri dijadikan ruang pusat untuk mengurus administrasi pemerintahan kerajaan. Namun saat ini ketiga bangunan tersebut telah dialih fungsikan seperti bangunan utama yang saat ini telah dirubah menjadi museum peninggalan-peninggalan bersejarah mulai dari singgasana raja, busana kebesaran, serta foto-foto raja yang pernah berkuasa di Istana beserta keluarganya. Masih banyak lagi peninggalan lainnya seperti tempat tidur permaisuri, dan masih banyak lagi. Sementara itu bangunan sayap kanan saat ini memiliki fungsi sebagai pendopo istana dan bangunan sayap kiri digunakan sebagai tempat tinggal para kerabat kerajaan Mempawah. Istana Amantubillah memiliki arti ‘’Aku Beriman Kepada Allah’’. Meskipun sudah tidak memiliki wewenang  secara politik lagi untuk mengatur pemerintahannya, Istana Amantubillah meninggalkan sejarah dan menjadi pusat kebudayaan Mempawah pada saat ini. Menurut saya, keberadaan dan kegiatan yang ada di keraton selayaknya diakui dan di lestarikan oleh masyarakat sehingga  budaya tersebut tidak terkikis oleh perkembangan zaman. 

    Setelah melakukan sesi wawancara dan observasi, tak lupa kami melakukan dokumentasi bersama kerabat kesultanan yang tinggal di kompleks Istana Amantubillah dan yang menjadi pemandu kami dalam melakukan observasi di Istana tersebut. Waktu menujukkan hampir menjelang asar. Setelah dari Keraton Amantubillah kami pun melanjutkan spot kami yang ketiga yaitu Pantai Samudera Indah Singkawang. Ini menjadi spot yang paling kami tunggu-tunggu karena menjadi tempat istirahat dan liburan bagi kami.  Dikarenakan tidak adanya bapak dosen yang ikut, kami pun mengubah agenda kami menjadi free alias bebas. Tentu hal ini tidak kami sia-siakan mengingat ini adalah liburan perdana kami sekelas. Namun sayangnya karena kekurangan dana kami hanya mampu menyewa pendopo untuk tempat istirahat bermalam kami. Tetapi menurut saya ini menyenangkan karena untuk pertama kalinya saya merasakan tidur di alam terbuka, di tepi pantai pula (hehe). 

    Setelah sampai dan berkemas, saya dan teman-teman memutuskan untuk bermain di tepi pantai karena hari juga sudah menjelang sore. Namun sayangnya pada saat itu cuaca sedikit mendung sehingga kami tidak dapat menikmati sunset. Namun kendati demikian, suasana pantai di sore hari tetaplah menyenangkan, deburan ombak di selingi dengan tawa teman-teman yang begitu melegakan. Rasa lelah yang tadinya kami rasakan kini terbayar lunas dengan indahnya pemandangan di pantai. Namun karena hari sudah mulai gelap, kami memutuskan untuk segera membersihkan diri karena ada kewajiban yang harus segera ditunaikan. Malam harinya kegiatan kami diisi dengan bakar-bakar. Meskipun sederhana, rasanya sangat menyenangkan dapat berkumpul bersama teman-teman, menikmati tawa mereka seperti candu bagi saya, meskipun di sini saya tidak banyak berbicara. Saya memang pendiam dan lebih senang menikmati keadaan alam sekitar. Tepat pukul 23.00 Wib. Kami kembali di pendopo masing-masing untuk beristirahat. Sekilas info kami menyewa tiga pendopo, dua di gunakan untuk kami perempuan dan satu pendopo untuk para laki-laki. 

    Namun ada keadaan yang tidak kami harapkan terjadi, salah satu teman saya mengalami kerasukan. Kami semua panik tentunya, tapi untungnya berkat warga sekitar pantai yang membantu akhirnya teman saya segera sadar. Akibat kejadian itu saya dan keempat teman saya  tidak bisa tidur. Baru ketika pukul tiga dini hari kami bisa tertidur. Keesokan harinya kami kembali menikmati suasana pantai. Karena memang pada saat itu hari minggu sehingga pantai terlihat ramai oleh pengunjung. Setelah puas akhirnya kami memutuskan untu bersih-bersih dan istirahat makan. Setelah zhuhur ternyata bis yang akan membawa kami pulang ke Pontianak sudah dating. Kami pun melanjutkan sedi dokumentasi foto bersama dan setelah itu bersiap-siap untuk pulang.

    Diperjalanan pulang saya terus merenung, betapa banyak kenangan dan pelajaran yang saya dapatkan selama kegiatan yang kurang lebih sehari semalam tersebut. Ada cerita yang tak akan ada habisnya untuk kami bahas, entah itu tentang kekonyolan atau pun susah senang yang telah kami alami. Seharian bersama membuat ikatan kekeluargaan kami sekelas menjadi lebih terasa, saya sangat berterima kasih juga kepada bapak dosen selaku dosen pengampu baru pada mata kuliah Sejara Pendidikan, berkat beliau kami dapat merasakan hal baru yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh kami. 

    Mungkin hanya begitu sepenggal kisah yang dapat saya bahas disini, banyak sekali kisah-kisah lainnya yang mungkin akan saya bahas di tulisan yang lain. Namun kisah ini akan menjadi topik utama yang paling berkesan bagi saya jika ditanya tentang pengalaman selama perkuliahan semester tiga kemarin.

Nah baikalh, semester baru dan perkuliahan baru tentunya akan memberikan semangat baru bagi seorang mahasiswa. Seperti semester-semester sebelumnya, semangat baru tersebut akan memunculkan harapan-harapan dan keinginan baru untuk seorang mahasiswa agar kedepannya menjadi lebih baik lagi. Di semester lalu, saya juga sudah menuliskan harapan-harapan saya untuk semester depannya. Namun, masih saja karena kelalaian saya, hingga ada beberapa harapan dan keinginan yang saya buat tidak terwujudkan secara maksimal. Untuk itu, di semester baru ini, saya akan lebih berusaha untuk memenuhi harapan dan keinginan saya tersebut. Tentunya harapan ini bertujuan untuk mengarahkan saya agar menjadi mahasiswa yang lebih produktif. Beberapa harapan saya yaitu:

1. Saya berharap di semester empat ini kami dapat melaksanakan perkuliahan secara luring (offline), karena saya sudah cukup jenuh menjalani perkuliahan secara daring (online). 

2. Saya ingin lebih menggiatkan diri saya untuk sering membaca karena sebagai seorang mahasiswa kita harus memiliki wawasan yang luas. Dengan giat membaca tentu kita akan banyak menemukan hal baru dan berbagai informasi baru yang belun kita ketahui.

3. Disemester baru ini saya akan berusaha untuk lebih giat lagi dalam hal mengerjaka tugas. Mungkinpada semester sebelumnya saya masih menggunakan metode kebut semalam dalam mengerjakan tugas. Saya tahu ini merupakan hal yang tidak disiplin. Maka dari itu untuk semester depan saya akan lebih produktif dalam menggunakan waktu.

    Mungkin itu adalah beberapa harapan saya pribadi dalam menjalani perkuliahan di semester baru ini. Semoga pandemi ini segera berakhir agar cepat memperbaiki kondisi Pendidikan di Indonesia. Sehingga kita semua dapat menjalani aktivitas kita seperti biasa dan kita mampu kembali menempuh Pendidikan secara efektif dan optimal. 

   Semoga teman-teman dan para pembaca selalu diberikan kesehatan dan selalu dalam lindunga Allah Swt. Aamiin.


Komentar

Postingan Populer